Deni menjelaskan bahwa algoritma umumnya dirancang untuk kepentingan komersial sehingga cenderung memperkuat pandangan yang serupa dan mengurangi ruang bagi perspektif berbeda.
“Algoritma memang dirancang untuk komersil dan hanya mendengar suara satu pihak saja dan bisa memusuhi suara yang berbeda,” ujar Deni.
Ia menambahkan bahwa media sosial kini telah berkembang menjadi ruang budaya sekaligus sarana pembentukan identitas, khususnya bagi generasi muda.
Karena itu, fenomena viralitas perlu dihadapi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang memadai.
Deni menegaskan bahwa Gen Z memiliki potensi besar dalam menentukan arah perkembangan peradaban di masa depan.
Untuk mendukung hal tersebut, IPB University berkomitmen mencetak lulusan yang mampu berpikir kritis, tidak mudah terjebak pengaruh algoritma, serta aktif membangun ruang digital yang sehat dan inklusif.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB University itu dipandu Direktur Eksekutif Nagara Institute, Akbar Faizal.
Acara tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi nasional yang mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta kerja sama IPB University dan BEM KM IPB University Periode 2025/2026.
RADARSINGAPARNA.COM— Babak baru dalam perjalanan karier Reza Arya Pratama resmi dimulai sebagai kiper baru Persebaya…
RADARSINGAPARNA.COM— Perjalanan Persib Bandung menuju gelar juara Liga 1 2024/2025 ternyata diwarnai momen penuh ketegangan.…
RADARSINGAPARNA.COM - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan arah belanja Tahun Anggaran 2027…
RADARSINGAPARNA.COM— Gelandang Persib Bandung Marc Klok jagokan Belanda di Piala Dunia 2026. Untuk itu, kapten…
RADARSINGAPARNA.COM – Direktorat Jenderal Instrumen dan Penguatan Hak Asasi Manusia pada Kementerian Hak Asasi Manusia…
RADARSINGAPARNA.COM – Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan seluruh peserta, mentor dan operator penyelenggara magang agar segera menyelesaikan…
This website uses cookies.