Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Hajat Laut pada awal tahun 1448 Hijriah dipilih sebagai simbol untuk membuka lembaran baru dengan harapan yang lebih baik bagi kehidupan para nelayan.
Tradisi tersebut, kata Jeje, telah dikenal dan diwariskan secara turun-temurun jauh sebelum dirinya terlibat dalam dunia pemerintahan.
“Hajat Laut ini terus berkembang sejak saya kecil, sejak kakek saya masih ada. Tentu tradisi ini akan selalu dirawat sepanjang tidak bertentangan dengan agama dan nilai leluhur kita,” ujarnya.
Jeje menjelaskan bahwa Hajat Laut di Pangandaran tidak hanya berisi kegiatan di laut, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta memperkuat identitas budaya masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah unsur budaya lokal turut ditampilkan, termasuk cerita mengenai Kerajaan Galuh Pananjung yang dalam kisah rakyat dikenal sebagai tempat lahirnya Dewi Rengganis serta berkembangnya kesenian ronggeng gunung.
Ia menyebut terdapat tiga makna utama yang menjadi landasan pelaksanaan Hajat Laut setiap tahunnya di Pangandaran.
Makna pertama adalah pelaksanaan istighosah dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi seluruh nelayan.
RADARSINGAPARNA.COM – Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan seluruh peserta, mentor dan operator penyelenggara magang agar segera menyelesaikan…
RADARSINGAPARNA.COM - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan perlunya perubahan pendekatan dalam menghadapi ancaman Demam Berdarah…
RADARSINGAPARNA.COM - Sebanyak 720 aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat hasil penerimaan…
RADARSINGAPARNA.COM - Sejumlah akademisi Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya mengimplementasikan teknologi fermentasi pakan berbasis M-Bio untuk…
RADARSINGAPARNA.COM – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan Arip Rachman…
RADARSINGAPARNA.COM – Menteri Ketenagakerjaan Prof Yassierli melantik sepuluh pejabat baru di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker),…
This website uses cookies.