Pengurus Pondok Pesantren Al-Muchtar Singarani, Ustadz Ajeb Singarani, mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk keberatan terhadap dampak proyek yang sedang berlangsung.
“Kami menyampaikan keberatan sekaligus somasi terbuka kepada BBWS terkait dampak proyek yang menyebabkan terhentinya aliran air menuju Pesantren Al-Muchtar Singarani,” ungkap Ajeb kepada Radar Tasikmalaya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Ajeb, persoalan kekurangan air yang dialami para santri sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan memengaruhi berbagai aktivitas penting di lingkungan pesantren.
“Kami telah menempuh langkah persuasif dengan melakukan audiensi dan menyampaikan kondisi yang terjadi secara langsung kepada pihak BBWS,” terang dia.
Ajeb menuturkan hingga saat ini belum ada langkah konkret yang mampu menjamin kebutuhan air bersih bagi ratusan santri selama proyek berlangsung.
“Kami menghormati pelaksanaan pembangunan dan proyek strategis yang sedang berjalan. Akan tetapi, pembangunan tidak boleh mengabaikan hak masyarakat untuk memperoleh akses air bersih, terlebih bagi lembaga pendidikan keagamaan yang menampung ratusan hingga ribuan santri,” paparnya.
RADARSINGAPARNA.COM – Kementerian Agama (Kemenag) mengajukan alokasi anggaran sebesar Rp9,6 triliun pada Tahun Anggaran 2027…
RADARSINGAPARNA.COM — Persib terus bergerak mencari pemain baru. Terbaru, Enriko Papa akui dihubungi Persib Bandung…
RADARSINGAPARNA.COM - Pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar dalam mempercepat pembangunan desa meski jumlah desa mandiri…
RADARSINGAPARNA.COM - Pemerintah Kabupaten Ciamis kembali melaksanakan tradisi ziarah ke makam para leluhur Tatar Galuh…
RADARSINGAPARNA.COM— Kesetiaan putra Surabaya ini berlanjut karena Malik Risaldi perpanjang kontrak di Persebaya. Meman gada…
RADARSINGAPARNA.COM - Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya masih menantikan petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional terkait rencana…
This website uses cookies.