Namun, ketika risiko geopolitik mulai mereda dan peluang terciptanya kesepakatan semakin terbuka, arus modal cenderung beralih kembali ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Fenomena tersebut tercermin pada perdagangan akhir pekan ini, ketika sejumlah mata uang di kawasan Asia turut mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.
Faktor Domestik Belum Mengganggu Pergerakan Rupiah
Menariknya, penguatan rupiah terjadi di tengah berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
Meski perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar domestik, dampaknya terhadap pergerakan nilai tukar masih relatif terbatas.
Pasar tampaknya lebih fokus pada perkembangan eksternal, terutama dinamika geopolitik global dan pergerakan dolar AS.
Dengan demikian, sentimen dari luar negeri masih menjadi penentu utama arah rupiah pada perdagangan hari ini.
Rupiah Berpeluang Melanjutkan Tren Penguatan
Keberhasilan rupiah bertahan di bawah level Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik.
Jika tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut dan tensi geopolitik global terus mereda, peluang penguatan rupiah menuju area Rp17.800 per dolar AS masih terbuka dalam jangka pendek.









