Karena itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam terus memprioritaskan peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan melalui pelatihan, literasi digital, serta penguatan kompetensi AI.
Kementerian Agama juga mengembangkan kurikulum AI yang tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dengan memasukkan pembelajaran AI dan coding yang dibarengi penguatan etika digital serta adab bermedia.
Arskal menegaskan bahwa pendidikan Islam harus mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan pembentukan karakter peserta didik.
“Kita ingin menghadirkan AI sebagai mitra guru dan kiai, bukan sebagai penggantinya. Masa depan pendidikan Islam ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan inovasi teknologi dengan penguatan nilai, akhlak, dan spiritualitas,” terangnya.
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Kartini, menambahkan bahwa kemajuan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari penguasaan teknologi, tetapi juga dari keberhasilan melahirkan generasi yang unggul dalam sains dan tetap berpegang pada nilai-nilai ketuhanan.
“Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita kuasai, melainkan seberapa mampu kita mencetak generasi yang inovatif dalam sains namun tetap teguh memegang nilai-nilai ketuhanan,” pungkasnya.









