Ia menegaskan bahwa validitas data menjadi kunci utama dalam penyusunan kebijakan kemasjidan yang tepat sasaran dan terukur.
Sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar, masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat.
Karena itu, data yang akurat dianggap penting untuk mendukung penguatan fungsi sosial dan pelayanan masyarakat berbasis masjid.
Dalam kunjungan tersebut, Arsad juga berdialog dengan pengelola SIMAS dan petugas KUA untuk mengevaluasi kendala teknis di lapangan.
Ia menilai masukan dari daerah menjadi bahan penting dalam menyusun strategi pengembangan sistem ke depan.
“Penggalian informasi langsung dari bawah seperti ini sangat penting. Dari sinilah kita menyusun strategi ke depan, supaya Kementerian Agama benar-benar hadir dan berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Selain SIMAS, ia juga meninjau pelaksanaan Early Warning System (EWS) sebagai sistem deteksi dini isu sosial-keagamaan.
Menurutnya, SIMAS dan EWS saling melengkapi dalam menghadirkan layanan keagamaan yang berbasis data dan kondisi riil masyarakat.
“SIMAS membantu kita membangun data kemasjidan yang akurat, sedangkan EWS membantu kita membaca dinamika sosial-keagamaan sejak dini. Keduanya menjadi instrumen penting untuk menghadirkan layanan yang lebih cepat, tepat, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.









